Sabilillah - Malang, 18 Oktober 2006
Khotbah Sabilillah

Assalamu alaikum wr. Wb.

Kaum muslimin dan muslimat, saudaraku yang dimuliakan oleh Allah.
Di pagi yang indah dan bahagia ini marilah kita bersama-sama memuji Dzat Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha suci, Pencipta dan Pemelihara jagad raya ini, Dzat yang telah melimpahkan karunia kepada kita semua, sehingga dapat menunaikan kewajiban ialah ibadah puasa sebulan penuh dan amalan lain yang menyertai seperti qiyamul lail, tadarrus Al Qur’an, shodaqoh, membayar zakat dan lain-lain.

Kita juga memanjatkan puji syukur kepada Allah swt, bahwa perintah menjalankan ibadah puasa telah kita jalankan dengan baik. Semoga tujuan puasa agar menjadi orang yang bertaqwa benar-benar kita raih. Kita semua berharap dan memohon kepada Nya, agar setelah puasa ini kita menjadi hamba Allah taat atas perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan mampu menjadikan diri kita berakhlaq mulia, dan akhirnya kita dimasukkan pada golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah, dijadikan oleh Allah swt sebagai pengikut Nabi Muhammad saw yang taat dan menjadi tauladan dalam pentas kehidupan ini.

Kewajiban berpuasa yang baru saja kita jalani, adalah diharapkan agar dengan puasa itu kita berhasil menjadi orang yang bertaqwa, sebagaimana yang dapat kita baca dalam al Qur’an surat al Baqoroh ayat 188 :

Yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu, agar kamu semua menjadi orang yang bertaqwa.

Hadirin kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Bulan puasa dikenal sebagai syahrut tarbiyah atau bulan pendidikan, yaitu tarbiyah fikriyah, tarbiyah qolbiyah dan tarbiyah jasadiyah. Sebagai tarbiyah fikriyah, maka pada bulan puasa kita diajurkan untuk banyak merenung tentang ciptaaan Allah, baik di langit maupun di bumi. Sebagai tarbiyah qolbiyah, maka kitadiajurkan untuk banyak mendekatkan diri pada Allah, melalui qiyamullaili, banyak berdzikir, menyebut asma Allah. Dan sebagai tarbiyah jasadiyah, artinya jasad kita dilatih, selain hanya dibolehkan makan dan minum pada waktu tertentu, yaitu pada malam hari kita juga dilatih untuk hanya memakan makanan yang halal lagi baik.

Bulan puasa yang dipandang sebagai bulan pendidikan adalah dimaksudkan dengan puasa seseorang dapat berlatih untuk mengatur dan memimpin dirinya sendiri. Dalam bahasa lain dengan puasa agar dapat mengendalikan diri atau mengalahkan hawa nafsu. Ibadah puasa lebih berdimensi pribadi. Puasa adalah ibadah yang diniatkan sendiri, dilaksanakan sendiri, dikontrol sendiri, dievaluasi sendiri oleh yang menjalankan puasa, tanpa melibatkan orang lain. Yang paling tahu bahwa seseorang adalah lagi menjalankan puasa yang sebenarnya, bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri. Untuk menjalankan puasa tidak bisa dipaksakan oleh orang lain. Puasa tidak bisa dipaksakan Kepada siapapun. Boleh jadi seseorang tampaknya berpuasa, karena malam hari makan sahur, mengikuti sholat tarweh, berpura-pura lemah karena kelaparan dan kehausan. Akan tetapi bagi orang yang tidak beriman, sangat besar berpeluang untuk membatalkan puasanya tatkala tidak sedang bersamaan dengan orang lain. Oleh karena itulah, puasa kemudian hanya diwajibkan kepada orang-orang yang beriman, sebagaimana seruan menjalankan puasa, bukan ditujukan kepada semua manusia, dengan kalimat ya ayuhannas, melainkan hanya khusus diserukan kepada orang-orang yang beriman, ”ya ayuhalladzi naamanu” hai orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang terpercaya, yang yakin akan keberadaan Tuhan dan rasulnya.


Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

Dalam kehidupan sehari-hari, terkait dengan persoalan atur mengatur, memimpin, memanage, ternyata yang terasa lebih sulit, bukan terletak pada mengatur dan memimpin orang lain, tetapi justru tatkala mengatur dan memimpin diri sendiri. Seseorang ayah bisa mengatur dan memimpin keluarganya, seorang ibu bisa mengatur para anak-anaknya, seorang kepala sekolah bisa mengatur para guru dan siswanya, seorang pemimpin bisa mengatur para anak buahnya. Seorang kepala desa, camat, bupati/wali kota, gubernur bahkan menteri dan presiden, mereka dapat mengatur dan memimpin para bawahannya. Akan tetapi tatkala mereka harus memimpin dan memanage dirinya sendiri, tidak selalu berhasil. Tidak sedikit para pemimpin berhasil mengarahkan anak buah dan masyarakatnya, tetapi ternyata gagal tatkala harus mengatur dan memimpin dirinya sendiri.

Kemampuan memimpin diri sendiri atau juga disebut kemampuan mengendalikan diri adalah termasuk pekerjaan yang amat berat. Mengendalikan diri sama artinya dengan mengendalikan hawa nafsu. Rasulullah dalam suatu riwayat menggambarkan bahwa memerangi hawa nafsu sama dengan jihad akbar. Pada suatu kesempatan, sepulang dari perang Badar, tatkala kaum muslimin baru saja menghadapi musuh yang sangat dahsyad yaitu kaum musrikin yang jumlahnya jauh lebih banyak dan lebih kuat. Rasulullah, Muhammad saw, menceritakan akan ada di kemudian hari perang yang lebih lebih besar lagi. Salah seorang sahabat bertanya, ia ingin tahu, perang apa lagi ya Rasullallah yang lebih besar itu. Dijawab oleh utusan Allah, Muhammad saw, ialah perang melawan hawa nafsu. Yaitu, berjuang keras untuk membangun kemampuan diri sendiri, agar mampu mengatur dan memanage diri sendiri agar menjadi manusia yang terbaik, yaitu beriman, beramal sholeh dan perilakunya selalu dihiasi oleh akhlakul karimah.

Akan tetapi, kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia, ternyata betapa sulitnya memimpin diri sendiri, memerangi hawa nafsu untuk selanjutnya kita selalu memilih pada pilihan yang terbaik, menurut ajaran Allah swt. Kesulitan itu, tidak saja dialami oleh orang-orang biasa, orang yang tidak menyandang ilmu pengetahuan, melainkan juga dialami oleh semua orang, baik para pemimpin masyarakat, cerdik pandai, sarjana atau bahkan oleh siapapun. Dengan godaan hawa nafsu dan kelemahan mengatur diri sendiri, maka yang semestinya kita sebagai khalifah Allah, seharusnya menampilkan perilaku yang terpuji, yang mulia dan luhur, maka pada kenyataannya justru sebaliknya yang kita lakukan.

Dalam hubungan antar manusia, antar sesama kaum muslimin, kita seharusnya menjalin ukhuwah, saling mengasihi, bertolong menolong antara sesama, sebab Allah memerintahkan melalui al Qur’an :
Bertolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan jangan kamu tgolong menolong dalam keburukan. Dalam sabda-Nya pada ayat yang lain,

Berpegang teguhlah dio tali Allah semuanya dan jangan saling berpecah belah. Akan tetapi pada kenyataannya, kita lebih suka memilih saling berebut, berebut harta, jabatan, kehormatan, prestise dan lain-lain

Dalam kehidupan sosial, kita selalu menyaksikan orang-orang terlantar, orang miskin dan anak yatim, orang lemah yang perlu dibantu, akan tetapi karena kita dalam posisi kalah memerangi hawa nafsu dan tidak mampu memimpin diri sendiri, tidak jarang kita enggan mengulurkan tangan kita, sekalipun mampu, untuk menolong mereka. Padahal al Qur’an menegur kita dengan teguran yang sangat keras :

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama, yaitu orang yang tidak mau memperhatikan orang miskin dan suka menghardik anak yatim. Nangu dhubillah, bahwa ternyata dalam al Qur’an bahwa perusak agama, bukan saja orang-orang jauh di sana yang suka melecehkan Nabi kita Muhammad saw, semisal dengan membuat karikatur, kita pun, tatkala tidak memperhatikan orang yang semestinya kita bantu, ternyata disebut sebagai pendusta agama.

Begitu pula terhadap ilmu pengetahuan, umat Islam dituntut untuk mengejarnya seluas-luasnya, agar memahami al Qur’an, dan hadits nabi. Akan tetapi, lagi-lagi kita masih dikalahkan oleh hawa nafsu dan kelemahan mengatur dan memimpin diri sendiri, tugas itu kita abaikan. Kita merasa sudah cukup dengan ilmu yang kita miliki. Kita merasa sudah tidak perlu lagi mengkaji al Qur’an sekalipun sesungguhnya ppengetahuannya masih belum memadai. Padahal, dalam hal berilmu pengetahuan, kita sebagai seorang muslim dianjurkan selalu merasa kurang dan sebaliknya dalam hal harta kekayaan kita dianjurkan selalu bersyukur berapapun yang kita dapatkan dan memanfaatkan sebalik-baiknya. Akan tetapi, karena hawa nafsu pula yang terjadi adalah sebaliknya, dalam hal ilmu kita selalu merasa cukup, sedangkan dalam menghadapi harga kekayaan kita selalu merasa kurang.

Dalam kehidupan spiritual, kita sebagai orang yang selalu mendambakan kedekatan pada Allah swt., semestinya gemar melakukan sholat berjama’ah di masjid, musholla atau langgar, sholat malam dan sholat sunnah yang lain. Akan tetapi pada kenyataannya, begitu ada adzan dikumandangkan, hati kita belum tergetar, kaki kita masih berat melangkah untuk bergerak menuju di mana adzan itu dikumandangkan. Akibatnya, masjid atau musholla yang dibangun dengan dana besar dan mencarinya harus dengan susah payah, pada kenyataannya masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Kita baru bangga dengan memiliki masjid besar, tetapi belum sampai terlalu tertarik untuk memanfaatkannya. Demikian pula kita tahu betapa semestinya, kita sebagai seorang yang beriman, harus selalu sholat malam---waktu yang paling baik untuk mendekatkan diri pada Allah, tetapi karena lemahnya kemampuan kita untuk memimpin diri sendiri dan masih belum berhasil mengalahkan hawa nafsu, maka sholat malam yang seharusnya kita lakukan, sholat sunnah yang seharusnya secara istiqomah kita biasakan, ternyata masih banyak di antara kita yang meninggalkannya dengan berbagai alasan yang kita buat.

Fenomena lainnya, di negeri kita yang kita cintai, yang mayoritas penduduknya beragama, masih meyandang identitas yang memprihatinkan yaitu belum berhasil mengenyahkan penyakit yang berakibat menyengsarakan masyarakat banyak, yaitu penyakit korupsi, kolosi dan nepotisme. Kita sehari-hari, selalu disuguhi berita-berita korupsi, penyalah gunaan wewenang, gejala mementingkan diri sendiri, baik di surat kabar maupun di media massa lainnya. Kejahatan itu, tidak saja dilakukan oleh pegawai rendahan, dan tetapi bahkan sebalikya, dilakukan oleh pejabat tingkat tinggi yang berlatar belakang pendidikan tinggi pula.

Berbagai f\enomena yang dapat dikemukakan itu semua, membuktikan bahwa ternyata, mengatur diri sendiri atau kemampuan untuk menahan diri dari mengikuti hawa nafsu, sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Memimpin orang dan mengatur orang lain ternyata jauh lebih mudah dibanding mengatur diri sendiri. Itulah sebabnya sebagaimana dikemukakan oleh rasulullah di muka, perang melawan hawa nafsu lebih berat daripada perang melawan musuh, dan karena itu berusaha membangun kekuatan agar mampu mengatur diri sendiri, melawan hawa nafsu dikategorikan sebagai jihad akbar.

Selanjutnya, kelemahan dalam memimpin diri sendiri, tidak saja dialami oleh para buruh, pedagang kecil, pekerja kasar, orang berpendidikan rendah, rakyat biasa, tetapi juga dialami oleh para pemimpin masyarakat, para pejabat dan juga oleh mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi sekalipun. Ibadah puasa, yang baru saja kita jalani bersama, memiliki berbagai makna dan hikmah, di antaranya adalah menjadikan kita semua yang menjalankannya agar memiliki kemampuan untuk mengatur dan memimpin diri sendiri atau berkemampuan untuk selalu mampu mengendalikan diri, dan mampu memerangi ajakan hawa nafsu.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

Hari ini, kita sebut sebagai hari kemenangan bagi umat Islam yang telah menjalankan ibadah puasa, yaitu kemenangan dari perjuangan untuk melatih diri memerangi hawa nafsu, kemenangan untuk dapat mengendalikan diri dan mengatur serta memimpin diri sendiri. Kemenangan yang kita peroleh hari ini, tentu tidak boleh kita sia-siakan begitu saja. Kemenangan itu harus kita buktikan dan kita pelihara sebaik-baiknya. Orang yang meraih kemenangan setelah menjalankan puasa, dalam al Qur’an disebut telah mencapai derajad taqwa.

Orang bertaqwa adalah orang yang mampu mempercayai, tidak saja terhadap yang dapat dilihat atau kasat mata, tetapi juga terhadap yang ghaib. Ia mengimani Allah dan malaikat-malaikat Nya. Selain itu, ia sanggup menegakkan sholat dan bersedia menginfaqkan sebagian rezekinya kepada mereka yang berhak, serta meyakini akan datangnya hari akhir.
Sebagai wujud riil upaya menuju ketaqwaan itu, bisa kita lakukan dari yang kecil dan sederhana misalnya, kita beristiqomah, selalu berjama’ah di masjid, musholla atau di tempat kerja pada setiap sholat fardhu 5 waktu. Yang kebetulan memiliki kelebihan harta, mencoba untuk peduli kepada yang berkekurangan. Sebab, Islam mengajarkan agar kita mencari rizki yang halal, tetapi tatkala mendapatkan rezki, kita sebagai seorang muslim dan mukmin, diajari untuk menggunakan secara benar dan selanjutnya berbagi kepada yang lain. Selain itu, kita juga bisa mengubah orientasi, dari selalu diberi, berusaha untuk menjadi pemberi, dari diperjuangkan berusaha untuk memperjuangkan, dari berharap untuk dicintai berusaha untuk mencintai, dari keinginan untuk diperhatikan bersusaha untuk memperhatikan. Kesimpulannya, sebagai orang bertaqwa kita dijari untuk menjadi orang yang memiliki tangan di atas. Sebab, ternyata, ajaran Islam memberi tuntunan yang mulia, b ahwa tangan di atas lebih baik dan lebih mulia dari tangan di bawah. Marilah diri kita kita bimbing menjadi berposisi sebagai pemberi dan bukan sebatas penerima.

Selanjutnya, memelihara kemampuan untuk mengatur diri sendiri adalah tidak mudah. Jalan yang dapat kita tempuh, di anataranya adalah sbb. : Pertama, seyogyanya kita harus selalu memohon kepada Allah agar kita diberi petunjuk atau hidayah. Hidayah hanyalah datang dari Allah, kita sebatas berkemampuan untuk memohonnya. Kedua, kita selalu mendekatkan diri pada Allah dengan banyak berdzikir, mengingat Allah, banyak membaca Al Qur’an. Ketiga, kita harus banyak menceburkan diri pada majelis ilmu, seperti pengajian, majlis taklim, halaqoh dll.


Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Demikianlah khutbah ini, semoga memberi manfaat bagi kita semua dan marilah kita memohoin kepada Allah swt agar kita selalu dibimbing dan dikaruniai petunjuk pada jalan yang lurus dan benar.

Rekor MURI
Terbaru
Web Polling