Istiqlal - Jakarta, 3 Juli 2005
Menjadikan Idul Fitri Sebagai Momentum Indonesia Bangkit

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ،

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ 3 x
لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللُهُ أكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.. أللهُ أكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةُ وَأَصِيْلاً، لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
الحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ باِللهِ مِنْ شَرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إلى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Pada pagi hari ini, hati kita terpanggil untuk menyatakan rasa syukur ke hadirat Allah Swt. atas segenap petunjuk, bimbingan dan karunia-Nya, sehingga kita berhasil menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, yang pada hari ini kita akhiri dan kita sempurnakan dengan bersama-sama melaksanakan shalat Idul Fitri. Atas semua itu kita merasakan kebahagiaan yang mendalam, sekaligus penuh harap agar puasa dan semua rangkaian ibadah yang telah kita lakukan dengan khusuk dan ikhlas diterima oleh Allah Swt.
Menurut ajaran Al-Qur’an, puasa merupakan bagian penting dari berbagai cara Allah Swt. membimbing umat manusia agar meraih derajat yang mulia, yaitu taqwa. Begitu pentingnya puasa bagi manusia, sehingga Allah menyatakan bahwa puasa tidak saja diwajibkan bagi umat Muhammad Saw., akan tetapi telah diwajibkan pula bagi umat terdahulu, sebagaimana firman-Nya dalam Qs. Al-Baqarah: 183, yang berbunyi:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .
Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah kami wajibkan atas umat-umat sebelum kalian, agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.
اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia
Bulan puasa dikenal sebagai bulan pendidikan atau syahrut tarbiyah, yaitu tarbiyah fikriyah, tarbiyah jasadiyah dan tarbiyah qalbiyah. Sebagai tarbiyah fikriyah, artinya pada bulan ramadhan kita dianjurkan untuk banyak merenung tentang ciptaan Allah. Tarbiyah jasadiyah, artinya jasmani kita dilatih, selain harus hanya memilih makanan yang halal tetapi juga hanya dibolehkan makan pada waktu-waktu tertentu saja, yaitu pada malam hari. Dan sebagai tarbiyah qalbiyah, maka kita dilatih pada bulan itu untuk banyak mengingat Allah, banyak berdzikir, menyebut asma Allah.
Makna bulan Ramadhan seperti itu, adalah sangat relevan bagi bangsa Indonesia pada saat sekarang ini. Sejak akhir tahun 1997 yang lalu bangsa ini mendapatkan cobaan dari Allah berupa krisis moneter. Berawal dari krisis itu kemudian disusul oleh krisis-krisis lainnya, yaitu krisis politik, krisis ekonomi, krisis sosial dan bahkan merambah pada krisis moral bangsa. Sebagai upaya keluar dari krisis itu, di bidang politik, misalnya, setelah kekuasaan Orde Baru berakhir, telah beberapa kali dialami pergantian pimpinan nasional, dipilih secara demokratis. Hasilnya, ternyata belum banyak dirasakan.
Pada setahun terakhir ini, Kepala Negara dan Pemerintahan telah dipilih secara lebih demokratis, melalui pilihan langsung oleh rakyat. Sungguh, rakyat penuh harap dari pimpinan bangsa hasil pemilihan umum yang baru ini. Gambaran indah berupa bangsa Indonesia akan segera keluar dari berbagai krisis, terbayang pada pikiran dan perasaan seluruh rakyat. Akan tetapi, pemimpin baru yang dicintai dan menjadi tumpuan masyarakat itu, ternyata diterpa oleh berbagai ujian yang amat berat. Ujian yang bertubi-tubi itu semuanya bersifat unpredictable. Betapa dahsyatnya musibah Gelombang Tsunami yang menewaskan ratusan ribu penduduk Aceh dan sekitarnya yang kita cintai.
Belum kering air mata dan derita karena musibah itu, menyusul pula musibah gempa bumi Pulau Nias dan sekitarnya yang juga memorak-porandakan kehidupan masyarakat di sana. Selain itu, secara susul-menyusul, musibah lain muncul seperti kasus kelaparan, mewabahnya berbagai macam penyakit, seperti demam berdarah, flu burung, banjir dan kekeringan di beberapa daerah. Bahkan, sesuatu yang sangat disesalkan, karena peristiwa itu sangat menyakitkan bagi siapa pun, terjadi beberapa kali peledakan bom, termasuk yang masih segar pada ingatan kita yaitu Bom Bali II.
Masih tergolong musibah, muncul lagi fenomena yang menyusahkan yaitu terjadi kenaikan harga minyak dunia, yang kemudian, mau tidak mau, berpengaruh pada harga dalam negeri. Peristiwa yang sangat tidak menyenangkan ini tentu berpengaruh kuat pada kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah, berupa kenaikan harga BBM., yang hal itu pasti berakibat pada beban hidup masyarakat yang semakin berat. Alhamdulillah, kita bersyukur, semua ujian itu dapat diatasi dengan kelebihan dan kekuarangannya. Selain itu, dalam suasana berat itu, telah berhasil dilakukan upaya-upaya perbaikan yang semakin tampak hasilnya, seperti penegakan hukum, pemberantasan kurupsi, penyelesaian konflik, demokratisasi melalui pilkada dan lain-lainnya.
اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan, yang terjadi sejak 7-8 tahun lalu itu, bagi kaum muslimin, seharusnya diletakkannya pada kerangka keimanan yang benar. Sebagai seorang muslim, seyogyanya selalu berkeyakinan bahwa musibah adalah sesuatu yang mungkin saja terjadi, kapan dan di mana saja. Musibah, bagi kaum beriman seharusnya dipandang sebagai bagian dari ujian dan karunia Allah, yang patut dihayati makna dan tujuan di balik itu. Jika musibah demi musibah itu dipandang sebagai ujian, maka seharusnya melalui ujian itu dapat dilahirkan watak bangsa yang unggul, yaitu bangsa yang tahan uji. Sebab, ternyata, dalam pentas sejarah kehidupan manusia, tidak terdapat sebuah bangsa pun yang luput dari cobaan Allah. Pertanyaannya adalah mampukah bangsa ini menerima musibah itu dalam kerangka keimanan yang tepat, agar dengan musibah itu bangsa ini ke depan justru menjadi bangsa yang kukuh, besar, dan terhormat?
Sebaliknya, kita tidak boleh keliru dalam memaknai musibah itu. Misalnya, kita menghadapinya dengan cara selalu mengambing-hitamkan pihak lain, saling mencaci, mengolok, merendahkan, bahkan saling menjatuhkan. Cara-cara seperti itu, jika kita mampu melihatnya secara cermat, pada kenyataannya hanya akan menambah beban, yang akibatnya akan diderita masyarakat luas dalam waktu yang lama. Sebagai contoh kecil, tatkala di rumah tangga terjadi kebakaran, maka seharusnya segeralah seluruh penghuni rumah bersatu padu, menyusun kekuatan untuk memadamkannya. Dengan demikian kebakaran akan segera diatasi. Akan tetapi sebaliknya, jika kejadian itu malah menjadikan penghuni rumah tangga saling menyalahkan satu dengan lainnya, maka yang terjadi adalah permusuhan berkepanja ngan, sementara problem utama—yakni kebakaran—tidak dapat segera diatasi. Contoh kecil ini, jangan sampai menjadi citra bangsa ini tatkala menyelesaikan masalahnya.
Sebagai kaum yang beriman, tatkala menghadapi musibah, kita dibimbing oleh Al Qur’an dan hadits Nabi untuk membangun keyakinan yang benar. Sebagaimana difirmankan dalam Qs. At-Taghâbűn: 11, yakni:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidak ada suatu musibah pun terjadi kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah mengetahui segala sesuatu.
اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Sebagai seorang Muslim, dalam membangun masyarakat, kita diingatkan pada kisah perjuangan Rasulullah Saw. Kehadiran Muhammad Saw. ke muka bumi adalah dalam kerangka membangun kembali tatanan kehidupan yang damai, bermartabat, adil dan jujur, di atas landasan tauhid yang kukuh dan akhlak mulia. Dalam tarikh nabi, digambarkan bahwa sebelum Muhammad diangkat sebagai rasul, masyarakat Arab dikenal sebagai masyarakat jahiliyah. Masyarakat itu tidak mengenal Tuhan yang sesungguhnya. Mereka terdiri atas kabilah-kabilah yang saling berebut ekonomi dan menyombongkan status kehormatan masing-masing kabilahnya. Kabilah yang kuat menindas yang lemah, tidak ada keadilan dan kedamaian. Kaum wanita diposisikan sebagai kelompok marginal dan bahkan tidak ayal dijadikan bahan perdagangan.
Rasulullah tampil sebagai sosok manusia yang terpercaya, melakukan pencerahan serta membangun kembali jiwa dan peradaban umat manusia. Melalui al-Qur’an ia membangun manusia yang bermartabat, berkedudukan setara, tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dari yang lain, baik laki-laki atau perempuan. Jika pun ada kelebihan di antara mereka, itu semata-mata atas dasar ketakwaannya.
Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat melalui pendekatan “uswah hasanah” yakni melalui contoh atau ketauladanan. Diberilah contoh oleh Rasulullah bagaimana masyarakat membangun kehidupan spiritualnya, ekonomi, sosial, hukum dan politiknya. Dalam kehidupan spiritual, Rasulullah selalu menjadi imam di masjid, juga mengeluarkan zakat/shadaqah, serta meyayangi orang miskin dan anak yatim. Rasulullah juga memberi contoh bagaimana menunaikan ibadah haji yang hanya dilakukan sekali dalam seumur hidupnya, dan bukan berkali-kali yang mengakibatkan pemborosan yang tidak perlu.
Dalam membangun ekonomi, Rasulullah menekankan pentingnya bekerja. Dalam konsep Islam, bekerja disebut amal shalih. Kata “amal shalih” selalu disebut setelah kata iman. Iman dan amal shalih dalam al-Qur’an selalu disebut secara berurutan. Hal itu menggambarkan betapa pentingnya kedua hal itu dijalankan bersamaan, di mana antara perbuatan batin dan zhahir menyatu secara kukuh.
Rasulullah sangat tidak menyukai orang yang bermalas-malas, tidak mau bekerja, apalagi kemudian untuk memenuhi hidupnya diperoleh hanya dari hasil meminta-minta. Dalam hadis Nabi, suatu ketika Rasulullah kedatangan seorang yang tidak memiliki harta sedikit pun, sekalipun untuk mencukupi dirinya sendiri. Rasulullah memberikannya kapak agar dengan kapak itu ia mencari kayu bakar, agar kemudian dijual untuk mendapatkan uang, guna mencukupi kebutuhannya. Pencari kayu bakar, ternyata, di mata Rasulullah, lebih tinggi derajatnya daripada penganggur, yang akibatnya menjadi beban orang lain.
اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ اَللهُ أكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

Menyadari persoalan bangsa yang pada saat ini sedang mendapatkan ujian dari Allah Swt, serta memperhatikan bagaimana perjuangan Rasulullah dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera, maka suasana Idul Fitri ini tepat kita gunakan sebagai momentum untuk membangun semangat Indonesia Bangkit dalam menyongsong kehidupan lebih cerah dan menjanjikan. Selanjutnya, Idul Fitri ini akan benar-benar memiliki makna pencerahan terhadap kehidupan bangsa, atau menjadi Syahrut Tarbiyah/ bulan pendidikan jika ibadah ini paling tidak melahirkan beberapa hal sebagai berikut:
Pertama, puasa dan Idul Fitri yang kita rayakan hari ini seyogyanya mampu melahirkan persepsi dan kesadaran yang tepat terhadap persoalan bangsa yang sesungguhnya. Persoalan bangsa Indonesia yang kita hadapi sekarang ini sesungguhnya, bukanlah sebatas menyangkut kelemahan di bidang ekonomi atau apalagi sebatas kekurangan sembako, melainkan lebih mendasar dan luas dari itu. Membangun ekonomi adalah sangat penting, akan tetapi pemenuhan ekonomi bukanlah segala-galanya. Bangsa yang berperadaban tinggi selalu dibangun di atas dasar keyakinan (iman yang kukuh), jiwa atau spiritualitas yang dalam, ilmu yang luas, serta akhlaq yang luhur. Keadaan ekonomi yang kurang baik, di tengah-tengah negeri yang subur seperti Indonesia, sesungguhnya merupakan akibat dari lemahnya iman, spiritualitas, keterbatasan ilmu dan akhlaq yang disandangnya. Betapa pentingnya aspek-aspek ini untuk membangun peradaban, maka ayat-ayat al-Qur’an al-Karim pada fase awal yang diterimakan kepada Rasulullah adalah menyangkut ilmu pengetahuan (yakni dalam bentuk perintah membaca), larangan berbuat angkara murka; dan sebaliknya beliau diperintah untuk membangun akhlaq yang mulia.
Kedua, puasa dan Idul Fitri harus mampu membangkitkan jiwa optimisme yang kuat terhadap kehidupan hari esok yang lebih baik. Akhir-akhir ini, muncul suasana pesimisme yang berkelebihan terhadap keadaan negeri ini. Bangsa ini diberi identitas yang sedemikian rendah, seperti disebut sebagai bangsa yang terpuruk, bangsa korup, bangsa yang carut marut, bangsa yang berada pada titik nadir dan istilah-istilah lain yang kurang menguntungkan. Istilah-istilah seperti itu, bisa jadi, akan melahirkan mental bangsa yang inferior, tidak percaya diri dan selalu berharap pada uluran pertolongan bangsa lain. Merendahkan identitas bangsa dengan cara seperti itu sesungguhnya tidak ada untungnya, apalagi jika dikaitkan dengan upaya menumbuh-kembangkan kebangga an anak bangsa ke depan. Bangsa Indonesia sesung guhnya tidak semalang itu. Sebaliknya, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang beruntung, memiliki tanah kepulauan yang luas lagi subur, samudera dan lautan yang luas, aneka tambang, serta jumlah penduduk yang besar. Semua itu adalah karunia Allah, yang seharusnya disyukuri dan dijadikan modal untuk membangun kemakmuran bersama. Puasa dan Idul Fitri harus mampu menumbuh-kembangkan sikap optimisme itu.
Ketiga, puasa dan Idul Fitri agar bermakna terhadap upaya menjadikan Indonesia bangkit, harus mampu melahirkan sikap solidaritas sosial atau kemauan berjuang dan berkorban yang tinggi. Membangun bangsa tidak akan berhasil jika tidak terdapat orang-orang yang rela berjuang dan berkorban. Sejarah bangsa ini membuktikan secara jelas tentang hal itu. Indonesia berhasil meraih kemerdekaan dari penjajah, adalah sebagai buah dari adanya kesediaan para pejuang yang ikhlas mengorbankan apa saja yang ada padanya. Demikian pula, Rasulullah Muhammad Saw, tidak akan mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani yang damai dan berperadaban jika tidak ditempuh melalui perjuangan dan pengorbanan yang berat.
Keempat, puasa dan hari raya Idul Fitri, selayaknya melahirkan sifat-sifat profetik, seperti shiddîq, amânah, tabligh dan fathânah. Sifat-sifat itu sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan maju. Lebih daripada itu, puasa dan Idul Fitri seharusnya berhasil melahirkan suasana batin yang pandai bersyukur, ikhlas, sabar, tawakkal dan istiqâmah.
Kelima, hal yang sangat penting lainnya adalah melalui puasa dan Idul Fitri ini mampu melahirkan pandangan tentang betapa pentingnya posisi pendidikan dalam membangun bangsa ke depan. Selanjutnya, berbicara tentang pendidikan, tidak lepas dari peran-peran strategis wanita di tengah-tengah masyarakat. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa sebuah bangsa akan baik jika para wanitanya mampu memposisikan diri secara benar dan tepat, yakni sebagai pendidik bangsa. “Seorang ibu adalah laksana sebuah sekolah, jika engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau mempersiapkan suatu bangsa yang tangguh dan kukuh.”
Jika cara pandang dan nilai-nilai Idul Fitri ini berhasil ditumbuh-kembangkan, setidak-tidaknya oleh kita yang baru menjalankan ibadah ini, maka insya Allah akan berdampak pada kehidupan masyarakat secara luas. Selanjutnya, gerakan uswah hasanah sebagai pendekatan strategis yang telah dipilih oleh Rasulullah, seharusnya dapat dikembangkan untuk membangun bangsa ini. Sebagai contoh sederhana, bagaimana para pedagang, petani, nelayan, pengrajin dan buruh diberi bimbingan dan uswah hasanah agar mereka dapat mengembangkan diri secara maksimal.
Bangsa ini kaya akan pemimpin, ulama’, tokoh agama, cendekiawan, cerdik pandai, sarjana dan sebagainya. Mereka sesungguhnya adalah pewaris para nabi yang memiliki tanggung jawab menjadi uswah hasanah, atau kekuatan keteladanan. Jika kita mau jujur, akhir-akhir ini, justru yang diperlukan bagi masyarakat luas dari berbagai tingkatannya adalah adanya peran-peran sosok uswah hasanah atau keteladan ini, yang pada kenyataannya dari waktu ke waktu rasanya semakin sulit didapatkan. Jika beberapa pandangan tersebut di muka berhasil diwujudkan, maka puasa dan Idul Fitri, telah memetik hasilnya yaitu menjadi sumber kekuatan bangsa untuk bangkit menyongsong kehidupan yang lebih baik dan menjanjikan, yang diridhai oleh Allah Swt.
Akhirnya, untuk menutup khotbah ini, marilah kita bersama-sama berdo’a, dengan hati jernih dan khusuk memohon kepada-Nya :
اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، الْحَمْدُ للهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، حَمْدَ النَّاعِمِْنَ، حَمْدًا يُوَاِفي نِعَمَهُ وَيُكَافِي مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكّ الكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ،
Allâhuma yâ Allâh, lindungilah kami dari segala godaan setan yang menjadikan perilaku dan langkah-langkah kami tersesat, perilaku zalim dan menzalimi, yang merugikan kami sendiri dan orang lain, bahkan menimbulkan kerusakan di muka bumi ini. Hiasilah yâ Allâh, hati dan jiwa kami dengan tawfîq dan hidâyah-Mu.
Yâ Allâh, kuatkan iman di dada kami serta mantapkan taqwa di kalbu kami, agar kami mampu melihat cahaya kebenaran-Mu dengan pandangan yang jernih dan jujur. Ya Allah, kami sadar bahwa kami telah bergelimang dengan dosa, maka ampunilah ya Allah. \segala dosa kami dan jauhkan kami dari api neraka.
Yâ Allâh, karuniakan kepada kami kemudahan untuk taat kepada-Mu serta menjauhi ma’shiyah; muliakan kami dengan hidayah dan istiqâmah; luruskan lidah kami dengan kebenaran dan hikmah; penuhi hati kami dengan ilmu dan makrifah; bersihkan perut kami dari barang haram dan syubhat; tahanlah tangan kami dari kezaliman dan perampasan; palingkan pandangan jiwa kami dari menuruti jalan kemaksiyatan dan pengkhianatan; palingkan pendengaran kami dari ucapan yang sia-sia dan umpatan.
Yâ Allâh, karuniakan pada para ulama kami kezuhudan dan nasehat; karuniakan pada para pemuda kami rasa penyesalan dan taubat atas dosa-dosa; karuniakan pada para wanita di antara kami rasa malu dan mempertahankan kesucian; karuniakan pada orang kaya kemurahan hati kepada orang miskin; karuniakan kepada pemimpin bangsa ini kesabaran, keikhlasan, keadilan, rasa kasih sayang dan keteguhan untuk berjuang membahagiakan dan menyejahterakan seluruh rakyat, juga karuniakanlah kepada mereka dan kepada kami semua kejujuran dan keluhuran akhlak. Yâ Allâh, berkatilah bangsa kami ini dengan kasih sayang-Mu yang sempurna.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، فِي كُلِّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Rekor MURI
Terbaru
Web Polling