Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam, 26 November 2004
Model Pendidikan Islam berlandaskan Al-qur'an dan Hadist

Untuk memenuhi permintaan panitia diskusi panel nasional ?Recovery Pendidikan Nasional Nanggroe Aceh Darusssalam? dengan judul ?Model Pendidikan Islam Berlandas kan al-Qur?an dan al-Hadis Terintegrasi dengan Sistem Pendidikan Nasional?, saya hanya akan menuturkan pengalaman yang selama ini saya lakukan dalam mengembangkan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang yang kini telah berubah bentuk menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Apa yang saya lakukan selama ini dalam mengembangkan lembaga pendidikan Tinggi Islam ini?menurut saya?pada hakikatnya sama dengan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh pembahasan judul ini.

Ketika memulai memimpin STAIN Malang, saya kemudian seringkali merenungkan konsep ideal pendidikan Islam yang bersumber dari al-Qur?an dan al-Hadis. Ajaran Islam?yang bersumberkan al-Qur?an dan al-Hadis ini?juga selalu disebut-sebut sebagai bersifat universal. Berdasarkan idealisme tersebut, saya merasakan bahwa lembaga pendidikan tinggi Islam ini perlu dikaji ulang, setidak-tidaknya dari sisi konsep struktur bangunan keilmuannya, bentuk kelembagaannya, serta instrumen pendukungnya. Jika STAIN dan juga IAIN sebagai lembagai pendidikan tinggi yang membawa nama Islam hanya mengembangkan bangunan ilmu sebatas yang ada selama ini, yakni fakultas/jurusan Ushuluddin, Syariah, Tarbiyah, Dakwah, dan Adab, maka hal tersebut tampak jelas sekali belum menggambarkan universalitas ajaran Islam. Selain itu, dengan bangunan keilmuan seperti itu akan melahirkan format dikotomik dalam melihat dan menata bangunan (struktur) ilmu pengetahuan, yaitu dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, yang kemudian menjadikan agama terpisah dari ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi. Dalam format seperti itu, Islam yang disebut bersifat universal; dalam kenyataan, kajiannya masih sangat terbatas dan kurang memiliki daya tarik, bahkan akibatnya mengalami ketertinggalan.

Terkait dengan struktur atau bangunan keilmuan, yang semula bersifat dikotomik? yakni diktomi ilmu agama dan ilmu umum?strukturnya harus diubah menjadi bangunan ilmu yang bersifat integratif. Al-Qur?an dan al-Hadis yang semula dijadikan sebagai obyek kajian direposisi menjadi sumber kajian untuk semua bidang ilmu. Langkah tersebut didasari oleh pertimbangan pemikiran bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya tidak selayaknya dipilah-pilah menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Pembagian ilmu, jika ditilik dari jenis obyek kajiannya secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora. Ilmu-ilmu alam (natural sciences) yang terdiri atas fisika, biologi, kimia dan juga matematika, yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu terapan seperti kedokteran, teknologi, kelautan, pertanian, peternakan, kedirgantaraan dan lain-lain. Ilmu-ilmu sosial (social sciences) yang pada umumnya terdiri atas ilmu sosiologi, psikologi, antropologi dan sejarah, berkembang pula dengan melahirkan ilmu-ilmu teapan seperti ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, ilmu administrasi, ilmu pemerintahan dan lain-lain. Sedangkan ilmu humaniora terdiri atas ilmu filsafat, ilmu bahasa dan sastra, serta seni. Ketiga cabang besar ilmu pengetahuan tersebut?ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora?dikembangkan melalui observasi, eksperimen dan penalaran logis (logika). Selanjutnya, yang dicoba kembangkan di STAIN Malang yang kini berubah bentuk kelembagaan menjadi UIN Malang, adalah al-Qur?an dan al-Hadis diposisikan sebagai sumber pengembangan seluruh disiplin ilmu itu. Al-Qur?an dan al-Hadis dipandang sebagai sumber berupa ayat-ayat qawliyyah; sedangkan hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis dipandang sebagai ayat-ayat kawniyyah. Semua jenis ilmu pengetahuan, setidak-tidaknya dari tataran konseptual, dapat dikaji dari sumber ajaran Islam, yakni al-Qur?an dan al-Hadis itu.

Dengan menempatkan al-Qur?an dan al-Hadis sebagai sumber ilmu pengetahuan di samping sumber-sumber berupa hasil-hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis sebagaimana yang berlaku pada perguruan tingi pada umumnya, maka akan tampak gambaran bangunan keilmuan yang bersifat integratif. Misalnya, Fakultas Ilmu Pendidikan yang mengembangkan serta melakuakan riset pendidikan dari sumber al-Qur?an dan al-Hadis serta disempurnakan dengan hasil-hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis maka berarti sudah sama dengan apa yang dikembangkan oleh Fakultas Tarbiyah yang ada di IAIN/UIN atau STAIN selama ini. Fakultas Hukum yang melakukan pengembangan dan riset hukum dari al-Qur?an dan al-Hadis serta dilengkapi dengan metodologi observasi, eksperimen dan penalaran logis berarti sudah sama dengan Fakultas Syariah. Demikian juga Fakultas Komunikasi yang melakukan riset dan pengembangan ilmu komunikasi berdasarkan pada sumber al-Qur?an dan al-Hadis serta hasil kegiatan ilmiah lainnya maka sudah sama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Demikian juga pada fakultas-fakultas lainnya.

Rekor MURI
Terbaru
Web Polling