Indosat Malang, Jawa Timur, 7 Agustus 2004
Problematika Umat Islam Kontemporer

Kalau kita mencermati realitas masyarakat Muslim, kekayaan yang menonjol pada saat sekarang ini adalah justru berupa problem yang menghimpit mereka dan sangat sulit dipecahkan. Oleh karena itu, tatkala kita mau berbicara perihal problem umat Islam, maka yang sulit adalah justru memilih mana yang perlu diperbincangkan dan kalau mungkin yang dapat dipecahkan. Hampir semua bidang kehidupan, baik persoalan politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, lingkungan hidup, HAM, demokrasi dan lain-lain, umat Islam terasa tertinggal dari kelompok lain. Belum lagi akhir-akhir ini, dengan munculnya isu terorisme di mana lagi-lagi yang ditunding sebagai sumbernya adalah umat Islam, walaupun pada kenyataannya tidak pernah ada bukti yang signifikan terhadap tudingan tersebut.

Islam dilihat dari ajarannya yang bersumber dari al-Qur?an dan hadits memuat konsep kehidupan yang amat ideal. Al-Qur?an dan hadits memberikan tuntunan tentang bagaimana membangun komunikasi dengan Tuhan lewat ibadah (ritual) seperi dzikir yang harus dilakukan pada setiap saat, sholat, puasa, zakat dan haji. Al-Qur?an memberikan tuntunan hidup agar kehidupan manusia dipenuhi oleh suasana berkeadilan, kejujuran, kesetaraan dan kesamaan; keharusan berpeduli kepada orang miskin dan anak yatim. Bahkan, disebutkan bahwa orang-orang yang tidak mempedulikan orang miskin dan anak yatim disebut sebagai pembohong terhadap agamanya. Islam juga mengajarkan bagaimana hidup hemat, selalu bersyukur atas nikmat dan karunia Allah, sabar, selalu menjaga hawa nafsu, memperkukuh silaturrahmi, menjauhi tingkah laku yang merusak (mungkar). Islam juga mengajarkan agar umatnya mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Manusia diperintah untuk berfikir tentang ciptaan-Nya pada lingkup yang tidak terbatas. Hanya Dzat Allah saja yang diberikan sinyal untuk tidak dijamah oleh manusia. Oleh karena, manusia tidak akan mungkin dapat memahami dzat Allah itu. Al-Qur?an juga mengajarkan hidup selamat lewat iman, amal shaleh dan akhlak yang mulia. Islam juga mengajarkan untuk memelihara agama, akal, keturunan, jiwa dan harta benda. Di samping juga ajaran lain yang agung dan luhur yang tidak mungkin kita sebutkan satu per satu pada kesempatan yang terbatas ini.

Berkaitan dengan hal di atas, persoalan yang muncul kemudian adalah mengapa umat Islam selalu tertinggal dari umat lainnya? Bukankah umat Islam disebut-sebut dalam Al-Qur?an sebagai umat yang terbaik (khoirul ummah), umat yang beruntung, umat yang terpilih dan seterusnya. Akan tetapi pada kenyataannya, dari sisi ekonomi banyak negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim pada umumnya masih diliputi oleh suasana kemiskinan. Negara-negara Islam masih banyak disebut sebagai negara berkembang (under development country) dan belum sampai pada taraf sebagai negara maju. Begitu juga dalam bidang pendidikan, sampai hari ini tidak pernah ada negara Muslim yang mampu melahirkan lembaga pendidikan yang dianggap unggul sehingga dibanjiri oleh anak-anak dari negara-negara lainnya untuk menimba ilmu di sana --- kecuali pengetahuan ?agama?. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, anak-anak muda dari negara mayoritas Muslim banyak bermigrasi ke negara-negara Barat yang pada umumnya non-Muslim untuk menempuh pendidikan dengan jumlah yang tidak terhitung banyaknya. Demikian juga dalam hal pengelolaan lingkungan hidup, umat Islam masih ketinggalan jauh dengan yang lain.

Hal ini tidak perlu kita lihat jauh-jauh, di Indonesia, negara kita sendiri, sebagai sebuah negara yang disebut memiliki kekayaan alam yang melimpah, tanahnya yang amat subur, tumbuh-tumbuhan apa saja dapat jika ditanam dapat tumbuh dan hidup subur, ternyata, penduduknya tak mampu memelihara dengan baik. Kita saksikan sekarang ini, hutan menjadi gundul, gunung-gunung menjadi gersang, hutan ditebang habis, mata air menhilang, sungai-sungai menjadi mati dan hampir-hampir tanpa air. Akibatnya, yang terjadi serba mala petaka. Tatkala datang musim hujan, maka bencana banjir yang terjadi. Dan sebaliknya, jika datang musim kemarau, maka di mana-mana kekeringan dan tanamanpun mati dan tidak dapat dipanen. Potensi alam yang melimpah ternyata tidak saja orang-orangnya tidak mampu mengelolanya secara baik, tetapi yang terjadi justru dirusak yang berakibat datangnya malapetaka itu. Persoalan tidak hanya berhenti sampai di situ, akan tetapi juga menyangkut perilaku, sikap hidup dari masyarakat Islam. Lagi-lagi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam juga dikenal banyak terjadi korupsi, kolusi, nepotisme dan perilaku buruk lainnya. Pertanyaannya yang selalu diajukan adalah mengapa hal itu semua terjadi ?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu tidak bervariabel tunggal, tetapi banyak variabel yang dapat digunakan untuk menjelaskannya. Pada kesempatan yang sempit dan terbatas ini mungkin hanya bisa kita lihat dari aspek bagaimana pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya. Selama ini, menurut pengamatan, Islam lebih banyak hanya dipahami dari aspek spiritualnya saja. Baru akhir-akhir ini saja mulai berkembang kajian Islam dari aspek ekonomi, sehingga muncul konsep-konsep ekonomi Islam, manajemen Islam, bank syari?ah dan lain-lain. Akibat keterbatasan pemahaman seperti itu, Islam tidak lebih hanya dipahami sekedar sebagai tuntunan spiritual belaka. Hal ini tampak sekali, tidak saja terekspresi dalam kehidupan keagamaan sehari-hari, melainkan juga tampak dalam bentuk kelembagaan dan materi pendidikan agama Islam. Lembaga Pendidikan Tinggi Islam yang mengklaim dirinya modern seperti IAIN/STAIN/PTAIS hanya mengembangkan Fakultas-fakultas Ushuluddin, Syari?ah, Tarbiyah, Dakwah, dan Adab. Kajian-kajian di luar itu dipandang bukan berada pada lingkup Islam, dan menyebutnya sebagai fakultas atau ilmu umum. Begitu pula mata pelajaran agama di sekolah, biasanya diformat menjadi tauhid, fiqh, akhlak/tassawuf dan tarikh. Mata pelajaran selain itu sekalipun sesungguhnya merupakan implementasi dari perintah Al-Qur?an, semisal biologi, fisika, kimia, berhitung dan lain-lain belum disebut sebagai lingkup ajaran Islam. Melalui cara berpikir yang dikotomis seperti ini jangan berharap perusahaan Indosat misalnya, masuk dalam kategori amal shaleh yang merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam. Selain itu, cara pandang Islam seperti itu, disadari atau tidak, sesungguhnya akan berakibat mempersempit lingkup ajaran Islam itu sendiri. Islam hanya akan berada di masjid-masjid, di tempat-tempat kegiatan spiritual, di seputar upacara kelahiran, pernikahan dan kematian. Tokoh Islam dipersonifikasi sekedar sebagai ahli do?a, bukan penemu salah satu bidang ilmu pengetahuan dari kegiatan risetnya, bukan pengusaha besar dan kelompok-kelompok pegawainya semacam Indosat ini, bukan orang yang berada di kancah politik yang pada sesungguhnya sehari-hari memikirkan dan memperjuangkan umat dan kemanusiaan. Cara pandang seperti ini menjadikan Islam memiliki lingkup yang amat sempit dan berakibat pula pada adanya kesalahpahaman yang sangat serius terhadap Islam.

Jika kia mau mengkaji secara seksama isi kandungan Al-Qur?an dan juga hadits Nabi SAW, sesungguhnya ajaran ini memiliki lingkup yang sedemikian luas dan oleh karenanya disebut sebagai ajaran yang bersifat universal. Sebagai sifatnya yang universal itu tentu Al-Qur?an dan hadits tidak akan memberikan tuntunan hal-hal yang bersifat detail, melainkan yang bersifat garis besar kecuali hal-hal tertentu. Hal-hal tertentu yang dimaksudkan itu misalnya Al-Qur?an juga berbicara tentang waris, tentang siapa yang boleh dan yang tidak boleh dinikahi. Al-Qur?an dan hadits yang bersifat universal itu maka kemudian dikatakan Islam bukan semata-mata agama melainkan juga peradaban (Islam is indeed much more than a theology, its complete civilization). Pandangan seperti ini dapat kita uji sendiri dalam Al-Qur?an dan hadits. Al Qur?an dan hadits memberi informasi tentang ketuhanan, tentang penciptaan, tentang manusia, tentang alam, tentang bagaimana manusia agar selamat, baik selamat di dunia maupun di akhirat. Tentang ketuhanan, Islam memberikan tuntunan secara jelas.

Islam hanya menuhankan Allah yang Esa. Manusia dilarang menuhankan makhluk-Nya. Manusia, dengan pemahaman konsep ini, memiliki kedudukan yang sederajat atau setara yaitu sama-sama sebagai mahluk penyembah Tuhan. Tentang penciptaan, Al-Qur?an menjelaskan baik penciptaan manusia maupun penciptaan jagad raya. Tentang manusia, Al-Qur?an menjelaskan secara luas, baik secara fisik, akal, jiwa maupun nafsu. Al-Qur?an juga berbicara tentang alam, mulai dari bumi, langit, gunung, tumbuh-tumbuhan, hewan, samudera/lautan, angin, petir, air, tanah dan seterusnya. Al-Qur?an juga bicara tentang keselamatan, sesuatu keadaan yang didambakan oleh seluruh manusia kapan dan dimanapun mereka hidup. Agar mencapai keselamatan, dunia dan akhirat Islam mengajarkan iman, ihsan, amal shaleh dan akhlak yang mulia (akhlaq al-karimah). Penglihatan Islam seperti ini menjadikan lingkupnya sedemikian luas, seluas kehidupan itu sendiri. Hanya lagi-lagi, Islam baru dipahami dari aspek ritual belaka sehingga menjadikan Islam terkesan sempit, bahkan hanya memuat ajaran yang sekedar menyiapkan kehidupan akhirat saja dan tidak menjamah pada persoalan keduniaan. Cara pandang seperti ini sesungguhnya berdampak luas, yang bisa jadi, persoalan-persoalan umat Islam yang muncul saat ini bersumber dari cara memandang Islam yang serba terbatas ini.

Rekor MURI
Terbaru
Web Polling