Tarim - Hadramaut, 20 Mei 2008
Rikhlah ilmiah dan ukhuwah ke Tarim, Hadramaut

Pada tanggal 10 sampai 20 Mei 2008 bersama sejumlah Kyai se Jawa dan Sumatra berkunjung ke Tarim, Hadramaut. Para kyai yang jumlahnya sekitar 40 orang yang berasal dari Madura, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Kediri, Jombang Lamongan, Solo, Demak, kudus, sampai Lampung dan Bengkulu dikoordinasi oleh Habib Sholeh Muhammad al Jufri dari Solo berkunjung ke Habib Umar al Hafidz dan ulama’ lainnya di Tarim. Kunjungan itu juga dimaksudkan untuk menjalin sillaturrakhiem dengan para kyai peserta rikhlah.

Baru pertama kali, saya pergi ke Tarim Hadramaut ini. Daerah Tarim masuk wilayah negeri Yaman. Kotanya kecil, masyarakatnya hidup sederhana. Tarim merupakan daerah yang berada di lembah, diapit oleh pegunungan warna abu-abu kemerahan, terdiri atas batu dan tanah liat tanpa pepohonan sama sekali. Jika musim panas sampai 45 derajad dan sebaliknya jika musim dingin sampai 5 derajad selcius. Di lembah inilah orang Tarim membuat rumah-rumah dari bahan tanah liat. Rumah yang terbat dari tanah liat itu kelihatan berwarna abu-abu kemerah-merahan, kecuali beberapa saja yang sudah di cat berwarna putih. Melihat bentuk dan warmna rumah seperti itu maka tidak mengesankan Tarim sebagai daerah modern. Tidak sebagaimana dapat kita lihat di kota-kota di dunia lainnya, yang setiap rumah tampak dilengkapi antena parabola atau antene TV biasa, di Tarim sarana modern itu tidak tampak. Menurut informasi, para ulama melarang masyarakat memakai fasilitas itu, dianggap mudah merusak akhlaq.

Pendidikan di sana sesungguhnya jika dibanding dengan kota-kota pendidikan di dunia juga tidak tampak maju. Ada tiga lembaga pendidikan yang menonjol, ---selain sekolah umum yang diurus oleh pemerintah, yaitu Ma’had Darul Musthofa yang diasuh oleh Habib Umat al Hafidz, Ma’had Rubath Tarim dan Fakultas Syari’ah al Ahqaff. Dilihat dari fasilitasnya sangat sederhana, hanya terdiri atas masjid, ruang belajar, asrama dan perpustakaan. Akan tetapi anehnya, keadaan sesederhana seperti ini ada kekuatan yang cukup mengagumkan. Tarim di kenal sebagai daerah pendidikan tidak saja oleh orang-orang Yaman tetapi juga orang-orang mancanegara. Para santri yang berasal dari Indonesia saja, yang belajar di Tarim tidak kurang dari 700 orang. Tentu selain itu, tidak sedikit dari negara-negara lain seperti dari malaysia, singapura, india, pakistan, dan bahkan juga ada beberapa santri yang berasal negara barat. Keistimewaan santri yang lulus dari Tarim umumnya tatkala pulang mampu menjadi ulama, spemimpin ummat yang tangguh. Inilah daya tarik pendidikan di Tarim.

Mata pelajaran yang dikaji oleh para santri umumnya sebatas ilmu-ilmu keagamaan, seperti al Qur’an, Hadits, tafsir, fiqh, tarekh, akhlaq dan tasawwuf dan sejenisnya. Yang menarik dari hasil penglihatan saya ketika di sana, adalah kesungguhan para Kyai dan santri dalam menunaikan tugasnya. Para Kyai yang pada umumnya adalah kaum habaib secara sungguh-sungguh dan istiqomah membimbing para santri. Suatu misal menjelang waktu sholat para santri yang umumnya tinggal di asrama sudah duduk rapi di masjid sambil membaca dhikir tertentu menunggu kedatangan imam, di Ma’had Darul Musthafa adalah Habin Umar al Hafidz sendiri. Setiap selesai sholat berjama’ah di masjid yang luas itu, Habib Umar mengajar beberapa orang satru senior, sedangkan lainnya mengelompok-kelompok (halaqoh) masing-masing kelompok menkaji kitab-kitab tertentu yang diprogram sesuai dengan arahan Kyai. Maing-masing kelompok terdiri atas antara 10 sampai 15 orang santri, dipimpin oleh seorang ustadz. Para santri sangat menghormati Ustadz apalagi Kyainya. Begitu juga mereka sangat menghormati kitab-kitab yang dikaji, hal itu bisa dilihat dari bagaimana santri membawa kitab dan juga meletakkannya. Kitab biasa dipegang dan ditempel didada santri dan begitu pula meletakkannya tidak pada sembarang tempat.

Pendidikan yang menekankan ketekunan, kesungguhan dan juga istiqomah itulah yang menjadikan Tarim meraih keuanggulan di bidang pendidikan ulama. Belajar dari Tarim ini, memang sarana prasarana menjadi bukan faktor penentu keberhasilan pendidikan, melainkan adalah kesungguhan dan istiqomah itu, baik yang dilakukan oleh guru dalam hal ini Kyai maupun para santrinya. Tarim yang merupakan wilayah yang jauh dari kota besar dan masyarakatnya sederhana, tetapi dikenal berprestasi dalam mencetak manusia berkualitas, lebih-lebih dari ranah perilaku dan akhlaq para lulusannya.

Rekor MURI
Terbaru
Web Polling